Aksi Pemilu Damai

Para anggota dan staf Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Solo mengadakan aksi galang tanda tangan untuk mewujudkan pemilu legislatif (Pileg) 2014 yang damai di Hotel Dana, Jl. Slamet Riyadi, Solo, Maret 2014

Pacuan Kuda

Tiga orang remaja memacu kudanya tanpa menggunakan pelana dan pedal dalam lomba pacuan kuda.

David S. Broder

Seorang wartawan Washington Post yang menulis buku berjudul "Berita di Balik Berita" yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan di Jakarta, 1996 lalu.

Roger Mudd

Seorang wartawan senior Amerika Serikat yang malang melintang di dunia jurnalistik sejak tahun 1980-an.

Protes Pendirian Tower

Puluhan warga Mojosongo menggelar aksi unjuk rasa menolak perpanjangan izin operasional tower di Kampung Debegan, Mojosongo, Jebres, Solo, 2013 lalu. Mereka meminta pengelola tower telekomunikasi itu dirobohkan karena izinnya sudah habis.

Tampilkan postingan dengan label Softnews. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Softnews. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Januari 2015

Area Parkir Masjid Agung Jadi Rebutan Pedagang Pasar Klewer


Tri Rahayu
Mangkuk berisi kuah bakso segera diletakkan Sriyatun, 42, di trotoar begitu melihat mobil berpelat merah parkir di Alun-alun Utara (Alut) Keraton Surakarta Hadiningrat. Karyawan Kios Mariza itu buru-buru mengusap mulutnya. Dengan senyum sopan, Sriyantun menyapa Wakil Ketua DPRD Solo, Umar Hasyim, yang ingin mengetahui kondisi pedagang Pasar Klewer, Selasa (13/1) siang.
“Mangga, Pak!” sapa Atun, sapaan akrabnya. Dia duduk di kursi plastik bersama Datiyah, 43, rekan kerjanya. Di belakangnya terdapat mobil hitam berisi dagangan. Mereka karyawan yang bekerja di kios CC 62, 93, 102 Pasar Klewer milik pedagang asal Wedi, Klaten, Hj. Sriyani. “Maaf, yang punya kios tidak di sini. Kami hanya karyawannya,” kata Atun.
Atun dan Datiyah tak biasa parkir di Alut. Setiap hari lokasi berjualan mereka pindah-pindah. Selain di Alut, mereka sering mangkal di area parkir sisi utara depan Masjid Agung. Mereka kerepotan mencari tempat parkir yang strategis untuk menjajakan dagangan. Mereka terpaksa jemput bola mencari pelanggan secara bergantian agar barang dagangan majikan mereka laku.
“Kalau mau parkir di depan masjid harus antre sejak pukul 21.00 WIB. Kami pernah masuk pukul 3.30 WIB dinihari. Area parkir itu sudah penuh. Untuk masuk ke sana [area parkir] harus sik-sikan [adu cepat]. Mobil-mobil di sana sudah dijaga sopir atau penjaga lainnya hingga tiba pagi,” ujar Atun.
Juragan Atun juga menyewa kios di Pusat Grosir Solo (PGS). Kios di pasar itu digunakan untuk gudang. Para pelanggannya enggan datang ke PGS. “Pelanggan di sekitar Alut saja kadang tidak mau mendekat. Apalagi di PGS. Kami harus mengejar para pelanggan dengan membawa nota kosong. Kalau enggak begitu ya tidak laku,” ujar dia.
Para pedagang ditarik retribusi parkir Rp20.000/hari per mobil. Tarif parkir itu berlaku di Alut dan area parkir depan Masjid Agung. Padahal tarif parkir sebelum musibah kebakaran Pasar Klewer hanya Rp5.000/hari per mobil.
Area parkir depan masjid paling diminati pedagang. Mereka berebut tempat sejak pukul 22.00 WIB. Puluhan pedagang bermobil berjejal di tempat itu. Jarak antarmobil cukup sempit, tidak bisa untuk bersimpangan dua orang. Hujan yang menguyur Solo membuat banyak genangan air. Mereka hanya berteduh di bawah payung atau tenda kecil saat hujan. “Kalau hujan ya kehujanan. Kalau panas ya kepanasan,” keluh Endah, pemilik kios L-5 Pasar Klewer.
Para pedagang di lokasi itu harus mengeluarkan tambahan retribusi Rp2.000/ hari untuk petugas kebersihan. Pedagang masih merogoh kocek mereka lagi untuk tip penjaga keamanan mobil pedagang yang parkir sejak pukul 22.00 WIB. Tip itu disesuaikan dengan lokasi parkirnya. Semakin dekat ke jalan, nilai tipnya semakin besar.
“Nilai tipnya bervariasi, tergatung kerelaan pedagang. Tip keamanan itu minimal Rp10.000/malam. Kami biasa antre sejak pukul 21.00 WIB. Yang penting mobil bisa masuk dulu. Kemudian ditinggal pulang. Baru datang lagi pada waktu Subuh,” kata Adi, pemilik kios CC-50 Pasar Klewer.
Banyak pedagang seperti Adi di lokasi parkir itu. Mereka mengeluh dengan pengelolaan parkir. Mereka iri dengan pengelola parkir di lokasi sisi selatan. Sebanyak 90-an pedagang yang jualan di area parkir selatan depan Masjid Agung. Jumlah dan pedagangnya tetap, tidak pernah berubah. Tarif parkirnya hanya lebih mahal Rp6.000/hari per mobil.
“Saya dulu mau masuk ke tempat parkir selatan, tapi tidak boleh. Pedagang di sana sudah mendapat nomor tetap. Kalau di sini [area parkir utara] tidak tetap. Kadang pedagang luar kota masuk juga di parkir ini. Kami tak berani menegur. Yang penting bisa berjualan,” ucap Andre, pemilik kios BB 36 Pasar Klewer.
Andre menginginkan pengelolaan parkir sisi utara diorganisasi seperti sisi selatan. Dia merasa berusaha sendiri. Himpunan pedagang dianggap Andre belum sepenuhnya bisa mengatur pedagang di area parkir utara.
Wakil Ketua DPRD Solo, Umar Hasyim, heran dengan pengelolaan tempat parkir yang berbeda. Umar tak bisa berbuat banyak. Dia berharap pengelolaan tempat parkir bisa fair dan tidak perlu ada pembatasan pedagang tertentu. “Lokasi yang terbatas dengan jumlah pedagang yang banyak membuat banyak pedagang iri. Siapa cepat mereka yang dapat, itu lebih fair. Saya kira biarkan berjalan alami saja,” tutur dia.
Dia menyarankan para pedagang bersabar menunggu proses pembangunan pasar sementara. Umar meminta pedagang percaya kepada Pemkot Solo yang berusaha maksimal mempercepat pembangunan pasar sementara, sekaligus segera membuka kios Pasar Klewer timur. “Besok [hari ini], kami akan ke Jakarta untuk konsultasi terkait aturan dalam penggunaan APBD dalam kondisi darurat. Semoga masalah pedagang bisa cepat selesai,” harapnya.




Senin, 08 Desember 2014

KOMPENSASI BBM: Pemegang Jamkesmas Pulang Dengan Tangan Hampa

 

Tri Rahayu
Terik matahari yang cukup menyengat tak menyurutkan usaha warga berbondong-bondong datang ke Kantor Pos Besar Gladag, Solo, Sabtu (22/11) siang. Seorang nenek-nenek pun terpaksa menunggu di becak yang diparkir di depan pintu masuk kantor pos yang terletak di Jl. Jenderal Sudirman itu. Perempuan jompo itu harus ikut ke kantor pos untuk mengambil sendiri jatah kompensasi bahan bakar minyak (BBM) senilai Rp400.000 rumah tangga sasaran (RTS) itu.
Ruang depan loket pelayanan kantor pos sudah dipadati ratusan warga. Hari itu, para petugas kantor pos harus melayani pembayaran Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) bagi 1.190 RTS dari RW 006 hingga RW 023 Kelurahan Semanggi. Warga duduk berjajar sesuai antrean. Pelayanan pembayaran dana PSKS itu dipisahkan dengan pelayanan surat menyurat.
Situasinya agak berbeda di sudut timur laut ruang yang menghadap ke selatan itu. Tampak seorang Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Pasar Kliwon, Asmuni, sibuk meladeni puluhan warga yang antre mengadu. Aduan yang diterima Asmuni membeludak yang didominasi aduan kehilangan Kartu Perlindungan Sosial (KPS).
Di sela-sela pelayanan aduan itu, ada seorang perempuan separuh baya menyela bertanya. M. Primaningsih, demikian nama janda beranak dua itu. Ningsih, sapaan akrabnya, mengeluh kepada TKSK karena tidak menerima KPS pada tahun ini. Ia datang dengan menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (jamkesmas) warna biru muda yang berukuran sama dengan KTP.
“Tahun lalu, saya dapat BLM [bantuan langsung masyarakat], tapi kenapa tahun ini saya tidak dapat? Saya ini janda yang bekerja sebagai buruh pengrajin kok dengan upah tak pasti. Saya kan punya jamkesmas. Ya, lucu, saya malah tidak dapat kartu kuning itu [KPS]. Kartu jamkesmas ini yang saya gunakan untuk mengambil BLM,” keluh warga asal RT 002/RW 016 Semanggi, Pasar Kliwon itu.
Ia hanya bisa pasrah dan rela pulang dengan tangan hampa karena tidak bisa membuktikan namanya masuk dalam database penerima PSKS. Ia kecewa dengan kebijakan pemerintah atas tindakan tidak adil yang diberikan kepadanya. Ia yang merasa sebagai warga miskin ternyata tidak mendapat perlakukan yang sama seperti warga miskin lainnya.
Asmuni tak bisa berbuat banyak. Ia memilih angkat tangan atas keluhan Ningsih. Asmuni hanya melayani warga yang benar-benar bisa menunjukkan KPS asli. Para warga yang mengaku kehilangan KPS pun hanya dilayani dengan memberi rekomendasi, tetapi tidak berani menjamin bisa mencairkan dana PSKS itu.
Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba hadir seorang lelaki bertubuh agak pendek dan kurus. Parlan Budiono, 40, demikian nama warga RT 002/RW 023 Semanggi, yang juga datang mengadu ke TKSK Pasar Kliwon. Pedagang mi ayam itu berkisah tentang proses pembagian KPS dari kantor pos beberapa waktu lalu.
“Begini Pak. Beberapa waktu lalu ada petugas kantor pos mencari nama Parlan selama dua hari tidak ketemu karena warga tidak mengetahuinya. Warga, termasuk Pak RT baru tahu kalau nama Parlan yang dicari itu adalah saya. Pak RT dan sejumlah warga meminta saya untuk memohon KPS itu ke kantor pos,” kisah dia.
Parlan menyatakan sebenarnya pihaknya berhak atas KPS berdasarkan informasi dari warga dan ketua RT setempat. Atas dasar itu, Parlan meminta bantuan kepada TKSK untuk mengecek namanya pada database di kantor pos.
“Saya yakin nama saya ada di data itu. Tolong ya Pak! Soalnya ada tetangga yang punya rumah bertingkat dan mobil ternyata masih dapat bantuan siswa miskin. Sedangkan anak saya yang hanya anak pedagang mi ayam keliling tidak dapat bantuan itu” ucap Parlan.
Lagi-lagi, Asmuni tak bisa menjanjikan apa-apa. Ia hanya bisa mencatat nama Parlan dalam buku rekapitulasi aduan PSKS yang nantinya menjadi bahan koodinasi dengan kantor pos.

Sabtu, 20 September 2014

7 Kali Kelur Masuk RS, Kondisi Iqbal Belum Membaik

Iqbal Dwi Kurniawan, seorang bayi berumur 15 bulan tergelatk di bangsal Sadewa No 2B RS Kasih Ibu Purwosari, Laweyan, Solo sembari meminum susu formula, Rabu, 17 September 2014.

Tri Rahayu
Puluhan sendal tercecer di depan pintu bangsal kelas III Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu Purwosari, Laweyan, Solo, Rabu, 17 Sepetmber 2014 sore. Enam tempat tidur berjajar di ruang yang menghadap ke selatan itu. Enam bocah tergeletak di enam amben besi itu. Mereka ada yang tertidur dan ada pula yang bercengkrama dengan orang tuanya sembari berbaring.
Dari enam tempat tidur di bangsal Sadewa itu terdapat satu pasien yang masih bayi. Iqbal Dwi Kurniawan, demikian nama bocah yang baru membuka mata sejak 15 bulan lalu. Kulitnya yang halus tak terlihat pada anak kedua pasangan Dedy Supriyono, 31, dan Indah Purnamasari, 22, warga Kampung Purwosari RT 001/RW 012, Purwosari, Laweyan.
Hampir 70% kulit bayi laki-laki itu terkelupas memerah karena bekas luka. Beberapa bagian terlihat bekas luka yang mengering berwarna coklat kehitam-hitaman, terutama di bagian kening dan dadanya. Di bagian leher bocah itu juga terdapat luka yang masih basah akibat gatal-gatal. Di bagian pantat sampai ujung kaki pun tak terkecuali. Bahkan kuku di 10 jari kakinya tak ada. Jari-jari kaki itu seperti menyatu.
Kedua tangan dan kaki cukup gesit bergerak. Ia tak henti-hentinya memandang ibunya yang memegangi botol susu formula. Susu itu terus diminumnya. Sesekali terdengar suara batuk dari Iqbal yang kelebihan meminum susu putih itu. “Susu formula seberat 1 kg habis selama kurang dari sepekan. Susu itulah sumber energinya karena tidak mau makan,” kata Dedy saat ditemui, Rabu sore.
Selang infus masih menempel di tangan kirinya. Namun ada selang lain yang dimasukkan ke lubang hidungnya. Selang itu berfungsi membantu Iqbal untuk minum ketika ia tak bisa minum di malam hari karena kondisi lidahnya yang sakit. Sebuah bulatan kecil berwarna merah tua bersarang di ujung lidahnya. Bulatan itu bisa tumbuh sampai sebesar ujung jari telunjuk orang dewasa. “Saat itulah, Iqbal tak mau makan dan minum. Hanya nangis. Apalagi saat gatal menyerang tubuhnya, tangisnya tak mau henti dan tangannya terus menggaruk,” kisah Dedy.
Sudah dua pekan, Iqbal dirawat di RS itu. Iqbal sempat masuk Intensive Care Unit (ICU) selama lima hari terhitung sejak masuk RS, Sabtu, 6 September 2014 lalu. Baru Kamis, 11 September 2014, Iqbal pindah ke bangsal Sadewa. “Kondisi Iqbal saat masuk RS ini yang paling parah. Bagian paha dan lengannya membesar disertai demam yang tak kunjung turun. Iqbal sempat transfusi darah selama di ICU itu. Kami sudah tujuh kali membawa Iqbal keluar masuk RS ini,” terang Dedy.
Dokter spesialis anak RS setempat mendiagnosa Iqbal mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan dokter spesialis kulit mendiagnosa penyakit Iqbal disebabkan oleh bakteri air. Penyakit itu diderita bocah tak berdosa itu sejak lahir. Saat umur 2,5 bulan, Iqbal sempat masuk RS Dr Moewardi. Dua pekan kemudian, sempat masuk di RS Panti Waluyo. “Karena tak ada perkembangan, akhirnya kami bawa ke RS Kasih Ibu saja yang paling dekat dengan rumah,” tambah Indah, istri Dedy.
Selama dua pekan di RS Kasih Ibu, Dedy dan Indah belum bisa membayar biaya perawatan anaknya. Fasilitas kartu Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS) silver tak mampu mengkaver semua biayanya. Penghasilan sebagai kuli bangunan pun tak mampu menutup total biaya yang mencapai Rp12,5 juta.
“Setelah dikurangi fasilitas dari PKMS, kami harus membayar lagi Rp7,5 juta. Uang sebanyak itu darimana? Semua barang berharga, seperti kalung, HP, televisi sudah terjual semua. Untuk makan sehari-hari saja, hanya mengandalkan bantuan orang tua. Kami berharap ada dermawan yang sudi membantu kami,” harapnya.

*Karya Jurnalistik ini dimuat dalam Harian Solopos, Kami, 18 September 2014.

Semangat Samanhoedi Jadi Pijakan Prototipe Museum Kawasan di Kampung Batik Laweyan

Keluarga Pahlawan Nasional KH Samanhoedi tinggal bersebelahan dengan rumah Alpha Febela Priyatmono di Kampung Batik Laweyan, Solo, Sabtu, 6 September 2014. Para cucu Samanhoedi itu mendukung upaya pembuatan konsep museum kawasan.

Tri Rahayu
Puluhan cap batik berbagai motif tua ditata berjajar di meja kecil panjang setingi 30 sentimeter. Cap-cap batik itu sengaja dikumpulkan pemilik merek Batik Mahkota untuk menunjukkan sejarah perjalanan Batik Mahkota yang lahir 1956. Berbagai lukisan para pendiri dipajang pada dinding kayu ruang sederhana berlantai kayu di lantai II milik keluarga Alpha Febela Priyatmono. Bukan hanya itu koleksi setrika kuno, mesin ketik manual, lemari lawas, hingga tanggalan buatan 1955 dan 1964 juga tersedia.
Alpha sengaja mendesain ruang berukuran 24 meter persegi itu menjadi sebuah museum pribadi. Ia menemukan lukisan misterius yang tidak diketahui identitasnya. Lukisan perempuan bule yang duduk di kursi dengan mengenakan pakaian jarit ala priyayi Laweyan. Benda-benda lawas itu hanya sebagian kecil koleksi yang baru tertata. Masih banyak koleksi barang lawas lain di gudang bawah. Semua barang itu diperoleh dari keluarga.
Museum rumah milik Alpha merupakan salah satu prototipe museum kawasan yang kini mulai dikembangkan tiga juragan batik di Kampung Batik Laweyan, Solo. Selain Alpha, dua juragan batik lainnya ialah Iwan yang biasanya di Batik Puspa Kencana dan Gunawan dari Batik Putra Laweyan. Mereka berdiskusi secara intensif untuk mematangkan konsep itu.
“Kami masih mengumpulkan barang-barang yang sudah ada. Barang-barang itu nanti ditata menjadi museum. Rumah-rumah itu nanti menjadi ruang-ruang dalam museum berskala kawasan. Rumah-rumah itu juga terhubung antara satu dengan lainnya. Orang bisa mendapatkan segala informasi tentang rumah itu, mulai sejarahnya, koleksinya, dan produksinya,” ujar Alpha saat ditemui di kediamannya, Sabtu, 6 September 2014 siang.
Konsep museum kawasan menjadi alternatif pengembangan pariwisata di Kampung Batik Laweyan Solo. Alpha yang juga Ketua Forum Kampung Batik Laweyan merasa kesulitan mencari dan menelusuri artefak-artefak K.H. Samanhoedi. Keterbatasan untuk mengumpulkan artefak itulah membuat Alpha mencoba mengangkat semangat Samanhoedi sebagai sebuah konsep museum kawasan.
“Nanti setiap pintu rumah saudagar batik di Laweyan akan dipasang penjelasan singkat tentang sejarah K.H. Samanhoedi. Konsepnya ya Laweyan secara keseluruhan wilayah itulah museumnya dan rumah-rumah yang ada jadi ruang-ruang museum,” tambahnya.
Temuan terakhir tentang artefak Samanhoedi di Laweyan berupa coretan tangan di dinding tentang protes Samanhoedi terhadap pemerintahan dan kondisi masyarakat kala itu. Coretan itu sempat ditemukan salah satu cucu Samanhoedi, Rahmanto Warto Wiryono, 70, yang tinggal bersebelahan dengan rumah Alpha. Sayang coretan itu ternyata sudah tertutup cat sehingga tidak bisa dilihat lagi.
Di rumah cukup besar itu tak hanya dihuni Rahmanto, tetapi juga dihuni dua cucu Samanhoedi lain dari anak kelima Samanhoedi, yakni Wafiah Citro Hartono. Kedua cucu yang sudah lanjut usia itu terdiri atas Widarti Priyohartono, 85, dan Widarni Priyohartono, 81. Masih ada satu cucu lagi yang juga mantan prajurit Tentara Pelajar yang tinggal di Perumahan Gentan, Sukoharjo, Suprapto.
“Matur sembah nuwun [terima kasih banyak], pemerintah masih nguri-uri [melestarikan] nama eyang Samanhoedi. Selama hidupnya tak pernah bercerita banyak. Pesannya kepada cucu-cucu pun hanya satu kalau menjadi pemimpin harus ramah, aja adigang-adigung, kudu jujur, temen, lan sing sabar [jangan sewenang-wenang, harus jujur, ulet, dan yang sabar],” ujar Widarti, saat dijumpai, Sabtu.

*Artikel ini dimuat dalam Harian Solopos, Selasa, 9 September 2014

Andalkan Keringat, Tukang Tambal Ban Naik Haji

Suparto beraktivitas membuka ban sepeda motor milik tetangga yang bocor di bengkel depan rumahnya di Bayan Krajan RT 004/RW 020, Kadipiro, Banjarsari, Solo, Kamis, 4 September 2014.


Tri Rahayu
Tujuh unit sepeda angin terjajar di teras rumah tembok sederhana di Kampung Bayan Krajan RT 004/RW 020, Kadipiro, Banjarsari, Solo. Sejumlah peralatan bengkel sepeda terserak tak beraturan. Di tempat itulah, Suparto, 65, bekerja setiap hari sebagai tukang tambal ban. Sebuah bengkel tambal ban yang terletak 300 meter arah selatan dari RSUD Ngipang.
Lelaki lanjut usia itu beraktivitas seperti biasa, Kamis, 4 September 2014 siang. Pantulan panas dari jalan aspal di depan bengkel memaksanya untuk melepas kaus. Kedua tangannya memegang besi pengungkit untuk membuka ban sepeda motor Honda Supra X milik tetangga yang kebetulan bocor. Uban yang menghiasi rambutnya menunjukkan pengalamannya dalam hal jasa tambal ban. Ya, sejak 1997, kakek dari empat cucu itu menggeluti pekerjaannya.
“Alhamdulillah, mari-mari mampir,” ujar Suparto yang mengejutkan saat menyapa Sakimin, 58, warga Jetis RT 003/RW 003, Kadipiro, yang tiba-tiba datang dengan motornya. Suparto tak merasa sungkan menerima tamu dengan bertelanjang dada. Ia masih tetap di tempatnya karena belum berhasil membuka ban.
Sakimin bukan tamu istimewa. Namun, kehadirannya memberi berkah bagi Suparto. Sakimin mengeluarkan plastik hitam berisi piring seng stainless dan sebuah kardus berisi cangkir stainless. Dua buah piring seng dan cangkir diserahkan secara cuma-cuma kepada Suparto. “Saya itu hanya butuh tiga piring, tapi belinya harus setengah lusin. Daripada tidak terpakai, sisanya buat sampeyan saja,” ujar Sakimin.
Calon Haji
Dengan senyum kegembiraan, Suparto menerima hadiah itu sebagai bekal perlengkapan di Tanah Suci. Meskipun hidup pas-pasan, Suparto ternyata menjadi salah satu calon haji (calhaj) kelompok penerbangan (kloter) 55 dari Solo yang akan berangkat pada Minggu, 21 September 2014. Sukimin tidak lain teman calon haji yang juga berangkat tahun ini lewat kloter 56.
Mereka ngobrol cukup lama terkait dengan persiapan ibadah haji. Vaksinasi folio yang belum dilakoni Suparto pun dimintakan pertimbangan kepada Sakimin. Setelah menghabiskan teh hangat yang dihidangkan Tum, 35, menantu Suparto, Sakimin pun pamitan.
Banyak tetangga yang tidak percaya kepada Suparto yang segera berangkat ibadah haji. Kemampuan yang terbatas tidak memungkinkan Suparto mengajak istrinya, Sudarni, 63. Bahkan keluarga dekatnya pun bersilaturahmi hanya untuk memastikan kabar keberangkatannya ke Mekah, Arab Saudi. “Ada saudara yang datang tidak ngandel [percaya]. Berangkat haji itu bantuan atau duite dewe? Hla jawabku, ibadah haji ini karena “bantuan”, yakni bantuan orang-orang yang menambalkan ban sepeda mereka,” celetuknya sembari berkelakar.
Niat menjadi calhaj dimulai Suparto sejak 2010. Seorang tetangga yang sudah mendapat predikat haji menyarankan kepada Suparto agar menyisihkan penghasilannya untuk ibadah haji. Saran tetangga pun direnungkan Suparto dan melahirkan niatan yang kuat. Semula bapak dari dua anak itu menyimpan uang hasil keringatnya Rp5.000/hari. Setiap pekan sekali dimasukkan ke rekening bank lewat bantuan anaknya.
Setelah sekian rupiah terkumpul, Suparto pun berani mendaftar ke tabungan haji di sebuah bank swasta. Sejak itulah komitmennya semakin kuat. Dalam sepekan, Suparto mewajibkan diri sendiri untuk menabung Rp300.000. Mengumpulkan uang sekian bukanlah hal yang mudah.
Tenaganya semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Tahun 2010-2011, Suparto bisa melayani 15-20 pelanggan per hari. Namun dua tahun terakhir, ia hanya bisa melayani maksimal 12 pelanggan per hari. Praktis penghasilan per pekan hanya Rp420.000 dengan asumsi 12 pelanggan kali uang jasa Rp5.000 per sepeda/motor.
“Saya sempat ragu, apa bisa saya berangkat ke Mekah. Akhirnya, saya bisa dengan keyakinan yang kuat kepada Sang Maha Pemurah. Setiap hari, 2.000 kali istigfar saya lakukan dan tidak lupa bertahajud,” jelas lelaki yang dikenal sebagai Ketua RT 004/020 itu.
Setelah empat tahun, niatan Suparto pun terwujud. Tum, yang tinggal serumah dengan Suparto tak mengira bila mertuanya bisa mengumpulkan uang untuk ibadah haji. Ia tidak percaya ketika ayah mertuanya yang berpenghasilan pas-pasan bisa ibadah haji dengan hasil kerja sendiri. “Beberapa kali, Bapak meminta kami untuk menyisihkan rezeki agar bisa ibadah haji. Kami belum bisa karena selalu terdesak dengan kebutuhan lain. Ternyata Bapak bisa,” kata Tum yang setiap hari membuka warung soto di samping bengkel Suparto.

Di akhir wawancara, Suparto menyampaikan niat untuk membiayai ibadah umrah bagi istri tercintanya dengan keringat sendiri. 

*Karya jurnalistik ini dimuat dalam Harian Solopos, Jumat, 5 September 2014.