Aksi Pemilu Damai

Para anggota dan staf Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Solo mengadakan aksi galang tanda tangan untuk mewujudkan pemilu legislatif (Pileg) 2014 yang damai di Hotel Dana, Jl. Slamet Riyadi, Solo, Maret 2014

Pacuan Kuda

Tiga orang remaja memacu kudanya tanpa menggunakan pelana dan pedal dalam lomba pacuan kuda.

David S. Broder

Seorang wartawan Washington Post yang menulis buku berjudul "Berita di Balik Berita" yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan di Jakarta, 1996 lalu.

Roger Mudd

Seorang wartawan senior Amerika Serikat yang malang melintang di dunia jurnalistik sejak tahun 1980-an.

Protes Pendirian Tower

Puluhan warga Mojosongo menggelar aksi unjuk rasa menolak perpanjangan izin operasional tower di Kampung Debegan, Mojosongo, Jebres, Solo, 2013 lalu. Mereka meminta pengelola tower telekomunikasi itu dirobohkan karena izinnya sudah habis.

Tampilkan postingan dengan label PELATIHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PELATIHAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Panama Papers dan Jurnalisme Masa Depan


Pengungkapan dokumen Panama Papers disebut-sebut sebagai salah satu jurnalisme masa depan. Dua wartawan Jerman dari Harian Sueddeutsche Zeitung berada di belakang pengungkapan skandal "Panama Papers". Mereka mengaku terkejut atas dampak global dari pembocoran dokumen itu. Keduanya lalu menjanjikan pengungkapan yang lebih sensasional lagi. "Saya tidak pernah membayangkan muncul reaksi seperti itu sampai disiarkan oleh seluruh saluran televisi dan kami menerima permintaan media dari seluruh dunia," kata satu dari dua wartawan itu, Bastian Obermayer, 38, kepada AFP.
Seorang sumber anonim menyebut harian terbesar kedua di Jerman itu menerima 11 juta dokumen milik firma hukum Panama Mossack Fonseca yang mengungkapkan transaksi-transaksi keuangan gelap yang melibatkan banyak orang kaya dan berkuasa di dunia. Harian liberal ini membagi jutaan dokumen bocor itu dengan sebuah konsorsium beranggotakan ratusan wartawan investigatif yang menambang gunungan data selama lebih dari setahun.
Pengungkapan dokumen bocor itu menjatuhkan Perdana Menteri Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson, memaksa mundur seorang pejabat senior UEFA, menerjang Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Presiden Argentina Mauricio Macri. "Kami padahal masih di tengah pembeberan (dokumen-dokumen bocor) itu," kata wartawan satunya lagi, Frederik Obermaier, 32, yang berbicara di kantor pusat surat kabarnya di Muenchen.
"Pada hari-hari mendatang, bakal lebih banyak lagi topik yang menjadi headline besar di banyak negara," kata dia.
Butuh Godam
Dari dokumen-dokumen yang bocor itu, "kami menyaksikan jenis kejahatan yang sama sekali lain. Kami melihat bagaimana kartel-kartel narkoba melakukan pencucian uang, para pedagang senjata terlibat, dan sanksi-sanksi dilanggar. Kkami juga menyaksikan penggelapan pajak," kata Obermayer.
"Andai para politisi sungguh ingin menghentikan ini, mereka harus bertindak sekarang. Kita sungguh memerlukan godam untuk menghancurkan sistem perusahaan offshore," sambung dia seraya menyatakan kebijakan dengan langkah-langkah kecil tidaklah cukup.
Data yang bocor itu memperlihatkan pemerintah-pemerintah berbagai negara mengambil langkah dalam melawan para pengemplang pajak. "Para pengemplang pajak beradaptasi, mereka menemukan cara-cara mengalihkan dan menyembunyikan uang mereka," kata dia.
Koleganya, Frederik Obermaier, berkata lebih tenang, "Saya kira ada banyak hal yang mesti dibahas, namun yang dilakukan pada akhirnya adalah hal yang berbeda."
Kedua wartawan itu mengaku tidak tahu nama narasumber pembocor dokumen. Mereka juga mengaku menerima data perusahaan-perusahaan offshore itu sekitar setahun silam. "Saya tidak tahu apakah dia itu pria atau wanita atau organisasi. Saya tidak tahu identitas orang ini," ujar Obermaier. Namun keduanya mengaku menjadi lebih akrab dengan sang pembocor dokumen.
Demi melindungi narasumber mereka ini, kedua wartawan menolak mengungkapkan apakah si narasumber mengontak mereka kembali atau bagaimana reaksi internasional atas dokumen yang dia bocorkan. Namun kedua wartawan itu memastikan bahwa narasumbernya itu didasari oleh motivasi moral, bahwa si narasumber menginginkan kejahatan-kejahatan itu diungkap luas ke publik. "Narasumber kami jelas telah melihat banyak dari data ini dan menilai harus dipublikasikan," kata Obermaier. Koleganya menandaskan bahwa narasumber mereka menginginkan Mossack Fonseca berhenti beroperasi.
Jurnalisme masa depan
Bastian Obermayer pertama kali dihubungi si narasumber anonim yang menawarkan informasi nan eksplosif itu. Mengenai pilihan narasumber kepada Koran Sueddeutsche, Obermayer berkata, "Kami hanya bisa berspekulasi mengenai alasan mengapa kami yang dihubunginya".
Didirikan di Muenchen setelah Perang Dunia II, Sueddeutsche dipandang sebagai salah satu koran bereputasi tinggi di Jerman, bersama dengan harian konservatif Frankfurter Allgemeine Zeitung, dan nomor dua terbesar dalam hal penjualan setelah Tabloid Bild. Semula menanggapi limpahan dokumen bocor itu dengan skeptis, Obermayer dan kawannya itu kemudian menyadari bahwa dokumen-dokumen awal yang mereka terima adalah dokumen asli.
Setelah itu mereka memutuskan untuk membagi banjir data ini melalui proyek riset besar-besaran bersama para wartawan dari seluruh dunia. "Masa depan jurnalisme terletak pada kerjasama internasional. Kami selalu lebih kuat dengan bekerjasama," kata Obermayer seperti dikutip AFP.
Sumber: Antara/AFP


Rabu, 10 Februari 2016

Tips dan cara menjadi wartawan handal


Tips dan cara menjadi wartawan handal itu cukup mudah kalau mengetahui ilmunya. Bagi kamu yang ingin terjun di dunia jurnalistik tidak perlu harus kuliah di jurusan komunikasi atau publisitik tetapi cukup dengan memahami ritme kerja dan teknik kerja di bidang jurnalistik. Banyak wartawan yang sukses dan meraih penghargaan ternyata bukan alumni komunikasi atau publisitik. Latar belakang pendidikan mereka macam-macam, bahkan ada yang jebolan ilmu statistik.
Bagaimana ritme kerjanya?
Seorang wartawan dituntut bisa menangkap berbagai informasi dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Tidak cukup hanya bisa menulis tetapi juga bisa mencari informasi apa saja yang layak dikabarkan ke publik serta menyesuaikan batasan waktu (deadline). Ritme kerja wartawan tidak mengenal waktu karena harus siap (stand by) selama 24 jam per hari. Kapan pun ada peristiwa, wartawan harus langsung datang ke lokasi. Berikut aktivitas yang dilakukan wartawan setiap harinya
1.       Menyiapkan tema yang akan dicari atau ditulis esok hari.
2.       Mencari bahan terkait tema yang akan ditulis sebagai referensi.
3.       Membuat janjian dengan narasumber atau berencana mencegat narasumber pada suatu waktu/kegiatan tertentu.
4.       Mengembangkan jaringan dengan narasumber mana pun setiap hari, misalnya dengan kepolisian, unit penanggulangan bencana alam, dan instansi lainnya.
5.       Himpun narasumber sebanyak-banyaknya dengan menyimpan nomor telepon, HP, WA, pin BBM, sampai alamat email.
6.       Jangan sekali-kali menerima amplop karena hal itu akan merendahkan martabat dan kredibilitas wartawan.

Bagaimana teknik kerjanya?
Teknik kerja wartawan pada dasarnya terbagi menjadi dua kegiatan, yakni reportase dan penulisan. Reportase merupakan proses menghimpun data baik lisan atau tertulis dan mengumpulkan fakta visual, hasil survei, dan wawancara kemudian diolah dan disusun secara sistematis dengan pendekatan 5W+1H . Sementara teknis penulisan merupakan penyajian data dan fakta secara sistematis dengan rumus piramida terbalik dan pendekatan 5W+1H dalam bentuk tulisan.
Bagi calon wartawan cukup tidak bisa langsung bisa mengikuti teknik kerja wartawan itu. Sejumlah perusahaan penerbitan maintream biasanya memberlakukan program magang bagi para mahasiswa yang ingin belajar teknik menjadi wartawan. Kemudian perusahaan juga membuka training bagi calon wartawan untuk beraktualisasi dengan seleksi alam untuk menjadi wartawan. Biasanya perusahaan penerbitan membutuhkan waktu setahun untuk mengetahui kualifikasi wartawan yang dibutuhkan. Bagi calon wartawan yang tidak memenuhi kualifikasi bisa diputus hubungan kerja sewaktu-waktu.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat guys. Selamat mencoba ya.... (ok)



Minggu, 26 Oktober 2014

Laku Wartawan Meniti 9 Elemen Jurnalisme



Laku wartawan dimulai dari sembilan elemen jurnalisme yang dirumuskan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel setelah melakukan diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan selama tiga tahun di Amerika Serikat (AS). Dua wartawan senior itu menempatkan kebenaran sebagai elemen pertama. Padahal kebenaran yang mana, dipandang dari kacamata apa? Agama, ideologi dan filsafat memiliki dasar pemikiran tentang kebenaran yang belum tentu sama. Kebenaran menurut siapa? Bagaimana dengan bias seorang wartawan yang berasal dari latar belakang sosial, pendidikan, kewarganegaraan, kelompok etnik, atau agama.
Bill Kovach

Kebenaran yang dimasuk Kovach dan Rosenstiel lebih pada kebenaran fungsional, kebenaran yang membutuhkan prosedur dan proses. Polisi menyelidikan dan menyidik seorang tersangka berdasarkan kebenaran fungsional. Hakim memutus sebuah perkara juga berdasarkan kebenaran fungsional. Para guru mengajarkan ilmu sejarah, fisika, dan biologi di sekolah semua itu berdasar pada kebenaran fungsional. Namun, semua kebenaran itu tidaklah mutlak, tetapi bisa direvisi, seperti UU bisa diamandemen, sejarah bisa direvisi, begitu pula dalam jurnalisme juga bisa direvisi.
Kebenaran dalam jurnalisme bukan dalam tataran filosofis. Orang bisa memilih rute tertentu berdasarkan informasi lalu lintas. Kebenaran dalam fakta yang disampaikan dalam jurnalisme selalu dinamis dan bisa saja terjadi koreksi fakta pada setiap harinya hingga mendekati kebenaran universal.
Elemen kedua diterangkan Kovach dan Rosenstiel dengan mengajukan pertanyakan  kepada siapa seorang wartawan harus menempatkan loyalitasnya? Kepada perusahaan yang memberi gaji bulanan? Kepada pembaca atau masyarakat? Sebuah survei di AS yang menunjukkan separuh wartawan AS menghabiskan sepertiga waktu mereka untuk urusan manajemen daripada jurnalisme. Wartawan punya tanggung jawab yang melampaui kepentingan perusahaannya. Anehnya, tanggung jawab itulah yang menjai sumber keberhasilan perusahaannya. Artinya, perusahaan yang lebih mendahulukan kepentingan masyarakat justru lebih menguntungkan ketimbang hanya mementingkan bisnisnya.
Tom Rosenstiel

“...to give the news impartiality, without fear or favor, regardless of party, sect or interests involved (... untuk memberikan ketidakberpihakan berita, tanpa rasa takut atau mendukung, terlepas dari partai, sekte atau kepentingan yang terlibat),” tekad Adolph Ochs ketika membeli The New York Times pada 1893.
“Dalam rangka menyajikan kebenaran, suratkabar ini kalau perlu akan mengorbankan keuntungan materialnya, jika tidakan itu diperlukan demi kepentingan masyarakat,” janji Eugene Meyer ketika membeli The Washington Post pada 1933.
Esensi jurnalisme ketiga adalah disiplin dalam melakukan verifikasi (objektivitas). Disiplin membuat wartawan mampu menemukan informasi yang akurat dari desas-desus, gosip, ingatan keliru, dan manipulasi informasi. Disiplin dalam verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni. Batas antara fiksi dan jurnalisme harus jelas. Jurnalisme tidak bisa dicampuri dengan fiksi .
Disiplin dalam jurnalisme ini sering terkait dengan apa yang biasa disebut objektivitas. Pada abad 19 tidak mengenal istilah objektivitas. Wartawan tempo dulu lebih mengunakan istilah realisme. Ide realisme itu muncul bersamaan dengan terciptanya struktur piramida terbalik. Pada abad 20, para wartawan khawatir dengan naifnya realisme itu. Pada 1919, Walter Lippmann menekankan jurnalisme tidak cukup hanya dilaporkan oleh saksi mata yang tidak terlatik, niat baik dan usaha yang jujur. Inovasi baru pada zaman itu seperti byline atau kolumnis juga tidak cukup. Menurut Lippmann, solusinya wartawan harus menguasai semangat ilmu pengetahuan. “Ada hal yang disatukan dalam kehidupan yang berbeda-beda. Hal itu adalah keseragaman dalam mengembangkan metode daripada tujuan, keseragaman metode yang ditarik dari pengalaman di lapangan.”
Bagi Lippmann, metode jurnalisme itu objektif. Tapi, objektivitas itu bukan tujuan karena objektivitas merupakan disiplin dalam melakukan verifikasi. Sayangnya, objektivitas itu diartikan keliru. Objektivitas sering kali digunakan untuk merujuk pada pemahaman bahwa wartawan seyogyanya objektif. Objektif di mata Kovach dan Rosenstiel, kebanyak wartawan hanya mendefinisikan liputan berimbang (balance), tidak berat sebelah (fairness) dan akurat. Tapi berimbang maupun tidak berat sebelah itu bukan tujuan, melainkan metode. Kebenaran bisa saja kabur ketika keberimbangan menjadi tujuan. Fair yang dimaksud ditujukan kepada sumber atau pembaca.
Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi; (1) jangan menambah atau mengarang apa pun, (2)jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa maupun pendengar, (3)bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase, (4) bersandarlah terutama pada hasil reportase sendiri, dan (5) bersikaplah rendah hati.
Metode yang lebih kongkrit disebutkan Kovach dan Rosenstiel, yakni
(1)Penyuntingan dilakukan secara skeptis dengan memunculkan dugaan-dugaan atau banyak gugatan pertanyaan dalam setiap fakta.
(2)Memeriksa akurasi dengan membuat pertanyaan checklist.
1.       Apakah lead sudah didukung data-data penunjang yang cukup?
2.       Apakah sudah ada orang lain yang diminta untuk mengecek ulang, menghubungi atau menelpon semua nomor telepon, semua alamat, situs web yang ada dalam laporan tersebut? Bagaimana dengan penulisan nama dan jabatan?
3.       Apakah materi background guna memahami laporan ini sudah lengkap?
4.       Apakah semua pihak yang ada dalam laporan sudah diungkapkan dan apakah semua pihak sudah diberi hak untuk berbicara?
5.       Apakah laporan itu berpihak atau membuat penghakiman yang mungkin halus terhadap salah satu pihak? Siapa orang yang kira-kira tak suka dengan laporan ini lebih dari batas yang wajar?
6.       Apakah ada data yang kurang?
7.       Apakah semua kutipan akurat dan diberi keterangan dari sumber yang memang mengatakannya? Apakah kutipan itu mencerminkan pendapat dari yang bersangkutan?
(3)Jangan berasumsi. Jangan percaya pada sumber-sumber resmi, melainkan lebih mencari sumber primer.
(4)Pengecekan fakta ala Tom French yang disebut dengan Tom French’s Colored Pencil, yakni menandati dengan pencil merah pada fakta-fakta penting dalam berita.
Elemen keempat tidak lain independensi. Wartawan boleh mengemukakan pendapatnya hanya dalam kolom opini, bukan berita. Menjadi netral bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Imparsialitas bukan dimaksudkan sebagai objektivitas. Prinsipnya, wartawan harus independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Jadi, Independen lebih penting daripada netralitas. Ketika wartawan beropini harus didasarkan pada data yang akurat, verifikasi, dan mengabdi untuk kepentingan masyarakat.
Elemen kelima adalah memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Memantau kekuasaan dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi. Salah satu pemantauan itu dengan melakukan investigation reporting, sebuah reportase untuk menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, siapa yang terdakwa dalam suatu pelanggaran publik yang sebelumnya dirahasiakan.
Elemen keenamnya adalah menempatkan jurnalisme sebagai forum publik. Surat kabar bisa menjadi ruang tamu di mana orang bisa datang, menyampaikan pendapat, kritik, dan sebagainya. Ketika mereka bereaksi terhadap laporan tertentu, maka masyarakat pun dipenuhi dengan komentar. Komentar-komentar ini didengar oleh para politisi, brikorat yang menjalankan roda pemerintahan. Jurnalisme yang mengakomodasi debat publik harus dibedakan dengan “jurnalisme semu” yang menggelar depat secara artifisial dengan tujuan menghibur atau provokasi.
Jurnalisme semua muncul karena debat yang dibuat bukan berdasarkan fakta-fakta yang memadai. Biaya talkshow jauh lebih murah daripada membangun infrastruktur reportase. Jurnalisme semu juga muncul karena gaya lebih dipentingkan daripada esensi. Jurnalisme semu ini pada gilirannya membahayakan demokrasi karena mengarah pada isu-isu sempit dan cenderung terpolarisasi
Elemen ketujuh, jurnalisme harus memikat sekaligus relevan. Mungkin bisa meminjam motto Majalah Tempo, jurnalisme itu harus enak dibaca dan perlu. Laporan yang memikat dianggap sebagai laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh tokoh selebritas. Tetapi laporan relevan dianggap kering, angka-angka, dan membosankan. The New Yorker terkenal bukan karena kartunnya yang lucu, tetapi juga karena laporannya yang panjang dan serius. Wartawan macam itu biasanya malas, bodoh, bias, dan tidak tahu bagaimana harus menyajikan jurnalisme bermutu.
Elemen kedelapan, menjadikan wartawan menyajikan berita yang proporsional dan komprehensif. Dua hal itu memang tak seilmiah orang membuat peta. Berita mana yang diangkat dan penting, mana yang dijadikan berita utama, penilaiannya berbeda antara wartawan dan pembaca. Pemilihan berita juga subjektif.
Setiap wartawan harus mendengarkan hati nurani. Dari ruang redaksi sampai ruang direksi, wartawan harus memiliki pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggung jawab sosial. Hal itu menjadi elemen terakhir jurnalisme yang digagas Kovach dan Rosenstiel. “Setiap reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri, dan berdasarkan model itulah dia membangun kariernya,’ kata wartawan televisi Bill Kurtis dari A & E Network. Ruang redaksi bukanlah tempat untuk demokrasi, tetapi bisa jadi menjadi ruang kediktatoran. Orang dipuncak media harus bisa mengambil keputusan untuk menerbitkan atau memangkas laporan, membiarkan atau mencabut kutipan dalam sebuah laporan agar media bisa menetapi deadline. Bob Woodward dari The Washington Post mengatakan jurnalisme yang paling baik sering kali muncul ketika ia menentang manajemennya.

Sumber: Dikutip dari karya Andreas Harsono, Agama Saya Adalah Jurnalisme, Yogyakarta: Kanisius, 2010.

Sabtu, 20 September 2014

Teknik Menulis Berita Bagi Wartawan Pelajar

Sebelum berdiskusi tentang teknik menulis berita, alangkah baiknya mengenal terlebih dahulu jenis-jenis berita. Pengenalan jenis berita itu penting agar seorang wartawan bisa merencanakan reportase dalam untuk kepentingan berita tertentu. Pada prinsipnya berita itu hanya terbagi menjadi dua, yakni berita keras (straight news) atau spot news dan berita ringan (soft news). Namun, dalam seiring dengan perkembangan ilmu jurnalistik, klasifikasi berita bisa ditambahkan, seperti berita investigasi (investigation reporting) dan berita mendalam (indepth news). Tiga jenis berita terakhir yang disebutkan dapat dikategorikan sebagai feature.
Berita keras atau straight news merupakan informasi atau fakta yang disajikan apa adanya, lugas, tegas, ringkas, jelas, padat, objektif, berimbang, akurat, dengan tulisan yang tidak berbunga-bunga. Berita keras biasanya disuguhkan terkait dengan fakta aktual, terkini, dan seterusnya (lihat nilai berita).
Ada rumus tertentu dalam penulisan berita keras yang dikenal dengan istilah piramida terbalik. Pada lajur header dalam straight news harus menjadi kunci sebuah informasi. Dalam satu paragraf lead harus memuat semua pertanyaan yang terstruktur dengan rumus 5W+1H (what, who, where, when, why, + how). Sementara, informasi dalam body dan seterusnya sampai foot merupakan informasi penjelas, informasi tambahan, dan informasi yang berkaitan dengan apa yang ada dalam lead.
a)      Siapa (who): Siapa yang diberitakan dalam berita? Dapatkanlah nama lengkap dari orang-orang yang terlibat dan selalu memastikan ejaannya untuk ketelitian, termasuk pangkat, gelar, dan seterusnya.
b)      Apa (what): Apa permasalahan/kejadian yang terdapat dalam berita? Dapatkan cerita tentang apa yang terjadi atau kronologi kejadian.
c)      Kapan (when): Kapan kejadiannya? Catatlah hari dan waktu dari peristiwa itu.
d)      Di mana (where): Di mana lokasinya? Dapatkan lokasi kejadian dan gambarkanlah.
e)      e.Mengapa (why): Mengapa terjadi peristiwa itu? Mengerti apa yang menjadi penyebab peristiwa itu. Apa yang menyebabkan konflik dan bila ada bagaimana pemecahannya.
f)       Bagaimana (how): Bagaimana berlangsungnya peristiwa itu? Cari lebih banyak informasi tentang peristiwa itu. Bagaimana itu bisa terjadi?
Berita yang tidak memenuhi persyaratan teknis akan membingungkan pembaca, karena tidak tersaji dengan lengkap. Jadi, kelengkapan data dalam sebuah berita dapat diukur dengan mengajukan enam pertanyaan dari rumusan 5W + 1H, sebagai persyaratan teknis.
Berita ringan adalah informasi yang disajikan dengan ringan, mengalir, enak, dengan kata-kata yang berbunga-bunga, tetapi tidak bertele-tele dan tetap memerhatikan kaidah jurnalistik yang benar. Dalam penulisan berita ringan tidak terpancang pada piramida terbaik dan ada terstruktur seperti dalam straight. Bentuk piramidanya bisa berubah-ubah dan penempatan lead (informasi penting) bisa diletakkan di atas atau tengah. Kuncinya, pembaca dirangsang untuk terus penasaran sehingga mau membaca informasi itu sampai tuntas.
Berita investigasi merupakan berita dengan muatan informasi yang berat, hasil investigasi, lugas, tegas, tetapi menggunakan format dan struktur berita ringan. Demikian pula indepth news juga memberikan informasi yang apa adanya, mengupas berbagai sisi tentang isu yang diangkat, tanpa memperhatikan struktur piramida terbalik. Informasi yang tidak terstruktur itulah disebut feature. Dalam perkembangan lebih lanjut dikenal istilah baru, yakni jurnalisme sastrawi. Pendekatan jurnalistik yang mengadopsi cara kerja ilmu sastra.

Bahan Berita
Sebelum membuat tulisan tentang berita-berita tersebut di atas, maka seorang wartawan harus menyiapkan bahan. Bahan berita ini dihasilkan dari kegiatan reportase. Teknis reportase sudah dikupas dalam pertemuan sebelumnya. Beberapa hal yang bisa dijadikan bahan reportase itu di antaranya (1) kejadian yang tak terduga timbulnya; (2) kasus-kasus; (3) pendapat cendekiwan; (4) diskusi, seminar, lokakarya, pelatihan; (5) sisi-sisi kehidupan yang human interest.
Bahan-bahan tersebut bisa didapatkan dengan melakukan (1) pengamatan langsung wartawan (observasi), (2) informasi lisan dari orang-orang (wawancara), (3) informasi tertulis/bahan-bahan tertulis (buku, Internet, pengumuman, dll).
Pilihan diksi atau kata dalam menyusun sebuah kalimat menjadi penting dalam karya jurnalistik. Kalimat-kalimat yang digunakan lebih baik memenuhi kaidah bahasa jurnalistik. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan berita, yakni pertama, menggunakan kalimat yang pendek agar mudah dimengerti pembaca dengan struktur SPOK. Satu kaliman berisi satu ide. Kedua, lebih baik menggunakan kalimat aktif daripada kalimat pasif agar tulisan itu menjadi hidup. Penggunaan kalimat aktif hanya memberi tekanan atas objek atau subjek yang ditulis. Ketiga, gunakanlah bahasa yang positif untuk mempertegas isi informasi.

Menulis Feature
Penulisan feature bertujuan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang menarik. Tulisan feature lebih mengungkapkan pada sesuatu atau hal di balik layar, sisi lain dari sebuah peristiwa, atau sesuatu yang unik menggelitik yang tidak tertuang dalam straight news. Feature itu merupakan karya kreatif yang cenderung subjektif dan mencoba memainkan emosi pembaca. Alur cerita dibangun seperti cerpen atau novel atau bertutur dengan mengalir indah. Sesuatu objek yang menarik dijelaskan secara detail dari berbagai sudut. Tapi, feature bukanlah karya fiksi karena informasi yang disajikan tetap akurat, clear dan balance.
Berikut beberapa contoh isu yang bisa dijadikan tulisan feature;
1. Feature kepribadian (Profil)
Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang perjalanan hidup seseorang secara dramatik, melalui berbagai liku-liku, kemudian mencapai karir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal karena kepribadian mereka yang penuh warna. Lebih lengkap bila dalam tulisan profil itu dilengkapi dengan biodata dan kutipan-kutipan dari sumber. Dengan membaca feature profil, seolah-olah pembaca bertemu dengan tokoh tersebut.

2. Feature sejarah
Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari peristiwa penting, seperti proklamasi
kemerdekaan, pemboman Hiroshima atau pembunuhan jenderal-jenderal revolusi, peringatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh. Seorang penulis feature yang bagus akan mengkaji lebih tentang peristiwa-peristiwa itu dengan sumber dokumen atau arsip dan wawancara pelaku sejarah.

3. Fature petualangan
Feature petualangan melukiskan pengalaman-pengalaman istimewa dan mencengangkan, seperti pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat, mendaki
gunung, berlayar keliling dunia, pengalaman ikut dalam peperangan, dll.

Contoh penulisan lead dalam karya feature;
a.      Lead Ringkasan
Lead ini memulasi sebuah tulisan dengan inti ceritanya. “Walaupun dengan tangan buntung, Pak Saleh sama sekali tak merasa rendah diri bekerja sebagai tukang parkir di depan kampus itu.” Dengan lead tersebut, pembaca bisa menebak kisah yang diangkat dalam feature.
b.      Lead Bercerita
Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya. “Anggota Reserse itu melihat dengan tajam ke arah senjata lelaki di depannya. Secepat kilat ia meloncat ke samping dan mendepak senjata lawannya sambil menembakkan pistolnya. Dor... Preman itu tergeletak sementara banyak orang tercengang ketakutan menyaksikan adegan sekejap itu .....” Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang operasi pembersihan preman-preman yang selama ini mengacau lingkungan pemukiman itu.
c.       Lead Deskriptif
Lead ini menceritakan gambaran dalam pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian (profil). “Keringat mengucur di muka lelaki tua yang tangannya buntung itu, sementara pemilik kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya dua ratus rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan kirinya yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pak Saleh, tukang parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani .....”
d.      Lead Kutipan
Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya dan tidak klise. "Saya lebih baik tetap tinggal di penjara, dibandingkan bebas dengan pengampunan. Apanya yang diampuni, saya kan tak pernah bersalah," kata Sri Bintang Pamungkas ketika akan dibebaskan dari LP Cipinang. Walau begitu, Sri Bintang toh mau juga keluar penjara dijemput anak-istri....
e.      Lead Pertanyaan
Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru. “Untuk apa mahasiswa dilatih jurnalistik?Memang ada yang sinis dengan Pekan Jurnalistik Pelajar yang diadakan ini.”
f.        Lead Menuding
Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata "Anda" atau "Saudara". Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan. Saudara mengira sudah menjadi orang yang baik di negeri ini. Padahal, belum tentu. Pernahkah Saudara menggunakan jembatan penyeberangan kalau melintas di jalan? Pernahkah Saudara naik ke bus kota dari pintu depan dan tertib keluar dari pintu belakang?
g.      Lead Penggoda
Lead ini hanya sekadar menggoda dengan sedikit bergurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar dijebak ke baris berikutnya. Lead ini juga tidak memberi tahu, cerita apa yang disuguhkan karena masih teka-teki.
Kampanye menulis surat di masa pemerintahan Presiden Soeharto ternyata berhasil baik dan membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga para pejabat tinggi di masa itu keranjingan menulis surat.
Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini? Alinea berikutnya:Kini, ada surat yang membekas dan menimbulkan masalah bagi rakyat kecil. Yakni, surat sakti Menteri PU kepada Gubernur DKI agar putra Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk menangani PDAM DKI Jakarta. Ternyata bukannya menyetor uang tetapi mengambil uang setoran PDAM dalam jumlah milyaran.... dan seterusnya.
h.      Lead Nyentrik
Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya. Reformasi total. Mundur. Sidang Istimewa. Tegakkan hukum. Hapus KKN. Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di halaman gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi rakyat ....


***Selamat menulis***

Sabtu, 30 Agustus 2014

Panduan Bagi Jurnalis Pelajar

Istilah jurnalistik sudah sering terdengar di telinga dan terasa tidak asing. Apa jurnalistik itu? Jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau kepenulisan atau media massa itu sendiri. Istilah itu secara harfiyah berasal dari kata “jurnal”, artinya laporan atau catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day). Asal-muasal kata jurnalistik dari bahasa Yunani Kuno, “du jour” yang berarti hari, yakni kejadian hari ini yang diberitakan dalam lembaran tercetak.
Dilihat dari segi konsepnya, jurnalistik dapat dipahami dengan tiga sudut pandang, yakni proses, teknik, dan Ilmu. Jurnalistik sebagai proses adalah aktivitas mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan atau jurnalis. Jurnalistik dari sudut pandang teknik ialah keahlian atau keterampilan menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan, seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara. Sedangkan jurnalistik dari sudut pandang ilmu adalah bidang kajian mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa.
Perkembangan jurnalistik semakin pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Namun semakin banyak media massa (cetak, elektronik, online) tidak diiringi dengan jumlah wartawan yang memadai. Padahal banyak universitas atau pergurunan tinggi yang membuka jurusan jurnalistik. Lulusan-lulusan sekolah jurnalistik ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan perusahaan media massa. Atas dasar itulah tidak aneh bila perusahaan media massa merekrut wartawan bukan dari disiplin ilmu jurnalistik atau komunikasi, tetapi dari disiplin ilmu yang bebas. Konsekuensinya perusahan-perusahaan media massa itu harus mendidik ulang calon wartawan mereka.
Wartawan senior Atmakusumah Astraatmadja dari Lembaga Pers Dr Sutomo (LPDS), menyebut jumlah wartawan di Indonesia pada masa Presiden Soeharto hanya sekira 7.000. Mereka mengasuh hampir 300 media cetak, hampir 700 stasiun radio, dan enam stasiun televisi.[1] Sekarang, ketika media cetak jadi sekira 600-700 perusahaan, stasiun radio lebih dari 1.000 perusahaan, dan televisi menjadi 31 stasiun di seluruh Indonesia, paling-paling wartawan bertambah 8.000-10.000. Padahal kebutuhannya banyak sekali. Ledakan stasiun-stasiun televisi di luar Jakarta akan terjadi, mungkin di lebih dari 10 kota besar Indonesia. Siapa yang bakal mengisi kekurangan tenaga-tenaga disana?
Di sisi lain, seorang mahasiswa program doktoral jurusan Bahasa Indonesia Universitas Gajah Mada (UGM) asal Jerman, Thomas Hanitzsh, tengah meneliti pendidikan jurnalisme di empat kota, yakni Surabaya, Medan, Jakarta, dan Yogyakarta. Riset tersebut akan disusun menjadi disertasinya. Riset awal itu sempat dalam Jurnal Mediator terbitan Universitas Islam Bandung tahun 2001, berjudul Rethinking Journalism Education in Indonesia: Nine Theses.[2]
Hanitzsch menilai kurikulum pendidikan jurnalisme tak memadai, bahkan sama sekali tak cukup untuk membuat lulusan sekolah bekerja sebagai wartawan. Mereka tak melatih kecakapan menulis mahasiswa maupun teknik-teknik baru dalam jurnalisme (misalnya, internet, news design, video, audio, film dan sebagainya). Hal ini belum lagi soal industri media yang dominan Jakarta, masih diracuni amplop, komersialisme, sensasionalisme dan aktivisme wartawan serta redakturnya.
Atas dasar itulah, pendidikan jurnalistik sejak dini harus digalakkan, terutama lewat sekolah menengah atas (SMA) dan sejenisnya. Para pelajar yang tertarik dan memiliki bakat menulis bisa diarahkan untuk menjadi jurnalis handal yang siap bekerja di industri-industri media cetak. Mereka bisa melanjutkan studinya dulu di sekolah-sekolah jurnalistik dan tidak terjebak dengan teori-teori yang ada karena sudah memiliki basik dari awal.
Dalam pelatihan singkat ini, saya mencoba menerapkan metode yang digunakan Yayasan Pantau dalam pendidikan jurnalistik. Ada empat materi yang bakal disajikan dalam pertemuan-pertemuan mulai Minggu ini, yakni (1) reportase; (2) penulisan; (3) etika; (4) dinamika ruang redaksi (newsroom). Reportase termasuk teknik wawancara, riset buku, internet, database dan pengamatan di lapangan.

Nilai Berita
Sebelum memulai materi pada reportase terlebih dulu mengetahui beberapa hal yang berkaitan dengan berita. Tidak semua informasi dalam reportase itu bisa dijadikan berita. Untuk mengetahui informasi itu bisa dijadikan berita maka informasi itu harus memenuhi nilai-nilai sebagai berikut;
1.      Objektif (objective)
Informasi berdasarkan fakta, tidak memihak
2.      Aktual (timelines)
Informasi terbaru, belum basi, up to date
3.      Luar biasa (bizarreness)
Informasi yang besar, unik, anek, janggal, tidak umum, nyeleneh, wow
4.      Penting (impact)
Informasi yang berpengaruh atau memiliki dampak bagi khalayak atau publik.
5.      Jarak (proximity)
Informasi yang memperhatikan jarak geografis, kultural, psikologis, perasaan dengan pembaca.
6.      Ketokohan (prominence)
Informasi yang menyangkut orang penting, pejabat, dan seterusnya
7.      Eksklusif (exclusive)
Informasi yang diperoleh secara eksklusif, tersendiri, tidak dimiliki media atau wartawan lain.

Unsur Berita
Untuk menjamin objektivitas, imparsial, dan independensi dalam penyajian informasi, maka sebuah berita harus memiliki unsur-unsur yang kuat dan satu sama lainnya saling melengkapi. Unsur-unsur berita tersebut sebagai berfikut;
1.      Lengkap (clear)
Informasi harus lengkap, jelas, tidak ambigu, tidak ada hal-hal yang disembunyikan, disajikan apa adanya, tidak mengurangi atau menambahi.
2.      Berimbang (balance)
Informasi harus berimbang, tidak berpihak, memberi ruang kepada pihak-pihak terkait. Hal itu sering kali disebut cover both site atau cover all site.
3.      Akurat (acurate)
Informasi harus benar, bukan isu, bukan gosip, bisa dipertanggungjawabkan
4.      Faktual
Informasi itu berupa fakta, peristiwa, kejadian, bukan fiktif.

Semua informasi-informasi tersebut didapatkan dengan teknik reportase, sebuah proses untuk mendapatkan data-data atau fakta-fakta baik berupa lisan atau tertulis dengan metode-metode tertentu, seperti wawancara, observasi (pandangan mata), riset Internet, buku, data base, dan data tertulis lainnya. Dari sekian banyak metode tersebut, metode wawancara membutuhkan keterampilan tersendiri. Wawancara biasanya memiliki teknik khusus, meskipun tidak ada aturan tertentu dalam wawancara.
Metode wawancara minimal bisa menghadailkan informasi dasar dengan mengajukan lima jenis pertanyaan yang dikenal dengan rumus 5W + 1H. Rumus itu terdiri atas what, who, where, when,dan why, plus how. Pertanyaan berikutnya merupakan pengembangan atas pertanyaan dasar tersebut, what next, why next, dan how next. Pengembangan pertanyaan itu akan mendapatkan jawaban yang berlebih tergantung pada wartawan atau si pewawancara. Untuk mendapatkan jawaban berlebih dan kaya dengan informasi tambahan, gunakan kalimat tanya what, why, dan how. Hindari pertanyaan yang hanya mendapatkan jawaban ya atau tidak.

Teknik-Teknik Wawancara
Para wartawan umumnya sependapat, tidak ada kiat mutlak wawancara jurnalistik. Setiap wartawan memiliki trik atau cara tersendiri guna menemui dan memancing narasumber untuk berbicara. Minimal ada tiga tahap dalam teknik wawancara, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan pascawawancara.
1.      Persiapan
a)      Menentukan topik atau masalah
b)      Memahami masalah yang ditanyakan–wawancara yang baik tidak berangkat dengan kepala kosong.
c)      Menyiapkan pertanyaan
d)     Menentukan narasumber
e)      Membuat janji –menghubungi narasumber atau “mengintai” narasumber agar bisa ditemui.
2.      Pelaksanaan Wawancara
a)      Datang tepat waktu –jika ada kesepakatan dengan narasumber.
b)      Perhatikan penampilan –sopan, rapi, atau sesuaikan dengan suasana.
c)      Kenalkan diri –jika perlu tunjukkan ID/Press Card.
d)     Kemukakan maksud kedatangan –sekadar “basa-basi” dan menciptakan keakraban.
e)      Sesuaikan pendekatan dengan narasumber, termasuk di sini cara duduk, cara menyapa, dan cara mengajukan pertanyaan harus disesuaikan dengan etika dan budaya yang dianut oleh nara sumber. Misalnya jangan mengajukan pertanyaan terlalu agresif dengan sumber yang jiwanya sedang tertekan.  Jangan menyapa dengan panggilan “Mas” kalau dia lebih senang disapa “Abang”.
f)       Selalu ingat, tugas wartawan berusaha mendapatkan informasi sebanyak mungkin. Maka jangan tergoda dengan basa basi berlebihan. Kadang wartawan bertemu sumber yang sangat falimiar, mengajak wartawan berbicara mengenai hal lain di luar topik wawancara.
g)      Awali dengan menanyakan biodata narasumber, terutama nama (nama lengkap dan nama panggilan jika ada). Bila perlu, minta narasumber menuliskan namanya sendiri agar tidak terjadi kesalahan.
h)      Mulailah dengan pertanyaan ringan dan menarik perhatian sumber, misalnya tentang kesibukan, hobi, atau  subjek lain yang menarik baginya. Usahakan agar proses komunikasi tidak terlalu formal.
i)        Pertanyaan  tidak   bersifat   “interogatif “ atau terkesan memojokkan.
j)        Carilah kesempatan paling tepat untuk mengajukan pertanyaan yang disiapkan. Usahakan menghapalnya agar tidak bolak-balik melihat daftar pertanyaan.
k)      Jangan terlalu kaku dengan urutan pertanyaan, yang penting semua informasi yang diperlukan bisa didapatkan.
l)        Catat! Jangan terlalu mengandalkan recorder.
m)    Ajukan pertanyaan secara ringkas.
n)      Jadilah pendengar yang baik.Ingat, tugas wartawan menggali informasi, bukan “menggurui” narasumber, apalagi ingin “unjuk gigi” ingin terkesan lebih pintar atau lebih paham dari narasumber.

Semoga bermanfaat dan selamat berdiskusi




[1] Data tersebut dikirimkan kepada wartawan senior dari Yayasan Pantau Andreas Harsono dalam sebuah email dalam suatu mailing list pada awal tahun 2000.
[2] Dikutip dari blog pribadi Andreas Harsono, http://www.andreasharsono.net/2004/06/diskusi-pendidikan-jurnalisme-di-jawa.html.